CONTOH STRATEGI PENELUSURAN INFORMASI YANG EFEKTIF FATJAL SETG


CONTOH STRATEGI PENELUSURAN INFORMASI YANG EFEKTIF FATJAL SETG

Pendahuluan

Strategi penelusuran informasi efektif adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pada saat ini membawa dampak bagi pesatnya perkembangan informasi yang beredar di dunia. Hal ini didukung oleh pesatnya perkembangan pemanfaatan internet sebagai media dimana saat ini berbagai informasi dapat ditemukan di internet. Perkembangan pengguna internet sendiri mengalami peningkatan yang sangat signifikan. 

 pada tahun 1995 jumlah pengguna internet ‘hanya’ sebanyak 16 juta orang, namun pada bulan Apr 2013 telah mencapai 2479 juta orang atau (2,5 Milyar lebih). Data ini juga menunjukkan bahwa potensi informasi yang beredar di internet dan diakses oleh pengguna internet juga telah mengalami peningkatan yang sangat tinggi.
Perpustakaan sebagai lembaga yang menjadi pusat informasi mau tidak mau harus dapat menghadapi kenyataan ‘banjir’ informasi di era yang kita kenal sebagai era informasi ini. Jutaan dan bahkan milyaran informasi yang ada harus mampu dikelola dan dimanfaatkan dengan baik.  Namun disisi lain, pengguna juga harus pintar dalam memilah dan menemukan informasi yang berada dalam belantara yang seolah tidak bertepi. Berbagai isu terkait bagaimana menemukan informasi yang tepat menjadi isu penting pada masa sekarang ini. Pengguna harus mempunyai strategi jitu untuk menemukan informasi yang diinginkan dan sesuai dengan kebutuhan serta mampu dipertanggungjawabkan secara kualitas.
 Hal ini disebabkan tidak semua informasi yang ada dapat diambil sebagai informasi yang’berguna’ atau ‘valid’.


Pengertian Informasi dan Penelusuran Informasi

            Secara sederhana informasi dapat dipahami sebagai data yang diberi makna. Artinya informasi merupakan bentuk ‘olahan’ dari data yang diperuntukan untuk tujuan tertentu agar penerima dapat mengerti arti dan makna dari data yang ada. 
Definisi di atas jelas memperlihatkan bahwa informasi merupakan bentuk pemaknaan dari data dalam konteks tertentu yang ditujukan agar dapat meningkatkan pemahaman dan mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.
Informasi secara prinsip sebetulnya ‘hanya’ terdiri dari dua jenis yakni informasi lisan dan informasi terekam. Informasi lisan merujuk pada informasi yang disampaikan secara lisan dan merupakan bentuk komunikasi di dalam masyarakat. Sedangkan informasi terekam merujuk kepada informasi yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, jurnal, compact disc, ataupun bentuk lainnya. Perpustakaan sebagai lembaga pusat sumber informasi biasanya lebih banyak mengelola informasi terekam bukan informasi lisan.

Contoh gambar 01 : media seperti buku



Informasi yang terekam dalam perpustakaan dapat dilihat dalam berbagai bentuk koleksi ataupun media seperti koleksi buku fiksi, koleksi buku non fiksi, koleksi media cetak non buku, koleksi multimedia, dan koleksi digital/online. Koleksi buku non fiksi biasanya menyimpan informasi fiktif, inspiratif, dan rekreatif yang berupa buku cerita, novel, dan lain-lain. Sedangkan koleksi buku non fiksi biasanya menyimpan informasi yang lebih bersifat informatif,  edukatif, dan  ilmiah yang berupa buku teks, buku referensi, buku pedoman, buku manual, dan lain-lain.

Adapun koleksi media non buku biasanya berupa terbitan berkala, leaflet, pamlet, brosur, poster, kliping, lukisan atau gambar, peta, globe bahkan alat peraga. Koleksi multimedia merupakan satu bentuk informasi terekam dalam berbagai media yang mengandalkan teknologi elektronik seperti video cassette, audio cassette, CD, DVD, media mikro, audio reader, slide suara, audio book, dan lain-lain. Bahkan kemajuan internet telah membuat informasi dapat diakses secara online melalui situs web, video onine, audio online, journal online, database online, majalah online, koran online dan media online lainnya.

 Keberadaan informasi dalam keanekaragaman bentuk media atau sumber tentu menjadikan masalah tersendiri dalam bagaimana menemukan kembali informasi yang ada. Apalagi apabila jumlah informasi yang beredar sudah mencapai ribuan, jutaan bahkan milyaran. Hal inilah yang kemudian mengapa diperlukan adanya media atau strategi untuk mendapatkan informasi secara cepat, tepat dan akurat. Proses dalam menemukan informasi inilah yang sering disebut sebagai temu kembali informasi, dimana secara spesifik juga akan menyangkut penelusuran informasi.

Temu kembali informasi sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemakai sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemakai. “Temu balik informasi” merupakan istilah yang mengacu pada temu balik dokumen atau sumber atau data dari fakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakan. Sedangkan penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi yang dibutuhkan, dengan bantuan berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasi yang dimiliki perpustakaan / unit informasi.
Penelusuran informasi menjadi penting karena “ruh” atau “nyawa” dari sebuah layanan informasi dalam unit informasi atau perpustakaan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan informasi yang diminta pemakai, bagaimana menemukan informasi yang diminta pemakai, dan bagaimana memberikan “jalan” kepada pemakai untuk menemukan informasi yang dikehendaki. Proses penelusuran informasi menjadi penting untuk menghasilkan sebuah temuan atau informasi yang relevan, akurat dan tepat. Proses dan penggunaan alat yang tepat akan menghasilkan informasi yang tepat pula.

Tipe Penelusuran Informasi
Dari pola telusurnya, penelusuran dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:
1.      Telusur dokumen: dimulai dgn identifikasi dkmen dan / atau sumber, baru dari sini dihasilkan informasi aktual.
2.      Telusur informasi:  dimulai dengan informasi yg diperoleh dari bank data, kumpulan data, atau perorangan.
Selain itu sebetulnya dilihat dari cara dan juga alat yang digunakan, maka penelusuran dapat pula dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:

1.      Penelusuran Informasi Konvensional: dilakukan dgn dan melalui cara-cara konvensional/manual seperti menggunakan kartu katalog, kamus, ensiklopedi, bibliografi, indeks, dan sebagainya.
2.      Penelusuran Informasi Digital: dilakukan dengan dan melalui media digital atau elektronik seperti melalui OPAC (Online Public Access Catalog), Search Engine (di Internet),  Database Online, Jurnal Elektronik, Reference Online, dan informasi lain yang tersedia secara elektronik/digital.
Namun pada lynan penelusuran inf, pembedaan tersebut seringkali diabaikan dikarenakan banyak pemakai yang memilih menggunakan berbagai cara untuk memperoleh apa yang dikehendaki. Bahkan seringkali terjadi penelusuran informasi menggunakan kombinasi dari perangkat penelusuran konvensional dan digital untuk mendapatkan data atau informasi setepa mungkin.


Penelusuran Informasi Konvensional
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa penelusuran informasi konvensional merupakan satu jenis penelusuran yang memanfaatkan sumber-sumber informasi dan atau sumber-sumber penelusuran yang sifatnya konvensional atau offline atau ‘tercetak’. Penelusuran dilakukan dengan menggunakan berbagai media penelusuran seperti katalog tercetak, bibliografi, indeks atau kumpulan indeks, kumpulan abstrak, ensiklopedia atau kamus, dan media lain yang sifatnya ‘manual’ atau dengan teknik-teknik klasik tanpa bantuan teknologi informasi/computer.

Pada penelusuran konvensional pengguna dan juga pustakawan atau petugas perpustakaan dituntut mampu memahami masing-masing fungsi sumber informasi atau sumber penelusuran serta karakteristiknya sehingga mampu menemukan informasi dengan benar, tepat dan akurat. Sebagai 

Contoh:
“Pengguna harus tahu bahwa untuk mencari koleksi buku/pustaka di sebuah perpustakaan maka yang perlu dilakukan pertama adalah menentukan apa (judul, subyek, penulis) yang akan dicari, kemudian alat apa yang dapat membantu dalam melakukan pencarian. Dalam hal ini biasanya pengguna/petugas paling tidak sudah mempunyai sebuah catatan tentang subyek, judul, penulis atau kata kunci yang akan digunakan untuk menelusur. Sedangkan alat yang digunakan cukup sebuah katalog tercetak (katalog subyek, katalog judul, kataloh pengarang), karena memang yang diperlukan hanya itu. Nah setelah ditemukan, pengguna/petugas juga perlu tahu bagian informasi mana yang perlu ‘diambil’ dan ‘dicatat’ untuk menemukan buku/pustaka yang dimaksud dalam katalog. Biasanya call number atau nomer panggil-lah yang menjadi ‘alat’ terakhir bagi pengguna/petugas untuk menemukan koleksi buku/pustaka yang dimaksud, untuk itu nomer panggil inilah yang perlu diperhatikan selanjutnya oleh pengguna.  Sehingga pada kasus ini maka pengguna atau petugas mempunyai dan atau mendapatkan informasi berupa judul/ subyek/pengarang, katalog tercetak, nomer panggil, dan tanda penomoran rak yang akan mengantarkannya kepada koleksi buku/pustaka yang diinginkan.”
Teknik melakukan penelusuran informasi konvensional akan dibahas dalam bagian tersendiri dalam tulisan ini.
Penelusuran Informasi Digital/Online
Adapun penelusuran informasi digital atau elektronik, seperti disebutkan di atas merupakan satu metode penelusuran informasi yang menggunakan teknologi informasi dan computer terutama untuk keperluan penelusuran koleksi atau sumber-sumber informasi yang berupa file elektronik atau digital. Sehingga pada penelusuran informasi digital atau elektronik ini, apa yang dicari dan alat yang digunakan untuk dicaripun sama-sama merupakan hasil dari sebuah pengembangan teknologi informasi dan komputer yang berupa digital atau elektronik.
Sumber-sumber digital sendiri sebetulnya sangat beragam, akan tetapi setidaknya ada beberapa yang mungkin sering digunakan oleh para praktisi dan akademisi yakni:

a)      OPAC (Online Public Access Catalog)
OPAC merupakan alat penelusuran informasi yang bersifat elektronik dan digital yang dapat digunakan untuk menemukan informasi pustaka/koleksi baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik/digital. Namun memang pada kenyataannya untuk saat ini OPAC ini masih banyak digunakan ‘hanya’ untuk keperluan temu kembali informasi pustaka terutama yang tercetak atau dengan kata lain fungsinya tak lain hanya sebagai pengganti katalog tercetak.

b)      E-Journal (Electronic Journal)
Journal elektronik atau orang sering menyebut sebagai e-journal merupakan satu bentuk sumber digital yang dapat digunakan dalam penelusuran informasi yang berasal dari jurnal ilmiah atau popular, baik jurnal tercetak yang dielektronikan maupun jurnal yang memang ‘hanya’ terbit secara elektronik. 

c)      E-Book
E-book atau buku elektronik merupakan satu sumber digital atau elektronik yang dapat digunakan oleh pengguna yang ingin mendapatkan informasi dari sebuah buku yang dikemas dalam format elektronik atau digital. Pengguna dapat melakukan penelusuran sekaligus membaca bahkan mendownload file buku elektronik yang tersedia di banyak situs di internet.  Buku elektronik ini bisa berasal dari buku tercetak yang dielektronikan atau didigitalkan, atau bisa juga hanya terbit dalam versi digital/elektronik.

d)      E-Publications
E-Publications atau publikasi elektronik merupakan sumber informasi digital yang diterbitkan oleh berbagai institusi atau penerbit atau organisasi atau bahkan perorangan baik yang bersifat ilmiah atau tidak. Bentuknya dapat apapun sepertie-news, e-newspaper, e-bulletine, e-gallery dan sebagainya.

e)       Online Database
Online Database atau Basis Data Online merupakan sumber informasi digital/elektronik yang berisi berbagai macam jenis informasi digital seperti e-journal, e-book, e-proceeding, e-articles, abstracts, images, dan publikasi lainnya yang dapat diakses dari satu situs web atau pangkalan data elektronik. Basis data ini seringkali mengalami distorsi pengertian dengan e-journal, hal ini dikarenakan memang sebagian besar informasi yang ada di dalamnya berupa jurnal elektronik. Namun perlu ditekankan bahwa basis data online (database online) ‘berbeda’ dengan e-journal.
Database online ini kebanyakan merupakan layanan berbayar atau berlangganan tapi ada pula yang tidak alias gratis.

Secara garis besar tiap-tiap database biasanya mempunyai keunikan dan spesialisasi dalam bidang ilmu tertentu. Akan tetapi kadang beberapa database juga merupakan database yang sifatnya general sehingga kadang akan ditemukan beberapa overleaping antara satu database dengan database lainnya. Atau dengan kata lain, ada beberapa sumber informasi digital yang dapat ditemukan dalam berbagai database online yang tersedia. Untuk itu perlu sebuah kejelian dan evaluasi mendalam ketika akan melanggan database online, terutama untuk menghindari banyaknya sumber digital yang sama dalam database berbeda yang dilanggan.
Sedangkan dalam hal teknik penelusuran, pada prinsipnya antara satu database dengan database yang lain, biasanya mempunyai metode pencarian yang sama. Artinya tidak akan berbeda jauh walaupun mungkin hanya berbeda istilah. Sehingga yang perlu dipelajari dalam sebuah penelusuran melalui media onlineatau elektronik adalah metode yang biasa digunakan dalam penelusuran online,seperti penggunaan tanda wildcard, penggunaan truncation, penggunaan Boolean, dan sebagainya. Jadi mau anda akan menggunakan akses melalui Database Ebsco, Proquest, Jstor, ScienceDirect, IEEE, Westlaw, Scopus maupun jenis database lainnya, maka anda hanya perlu memahami satu metode penelusuran saja, yang lainnya anda tinggal menyesuaikan.

)        Other Resources & Searches Tools
Internet telah memberikan kita kesempatan untuk menikmati berbagai sumber informasi digital dan juga alat untuk menemukan sumber informasi digital/elektronik yang berjumlah jutaan bahkan miliaran itu. Nah, ada beberapa sumber informasi digital dan juga alat penelusuran digital yang dapat dimanfaatkan selain beberapa yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, diantaranya adalah:

a.   Search Engine & Meta-Search Engine
Search Engines atau disebut sebagai piranti pencari, merupakan sebuah alamat web yang mempunyai fungsi pencarian sumber-sumber informasi yang terkandung di dalam jaringan internet. Cara kerjanya menggunakan dan membaca informasi yang ada di dalam tag-tag metadata yang tersedia dalam sebuah alamat situs atau web. Selain itu ada satu buah piranti yang bekerja dengan memanfaatkan banyak search engines, yakni apa yang disebut denganmeta-search engines. Meta Search Engines merupakan piranti pencarian yang menggunakan banyak search engines sebagai sumber data untuk pencarian oleh penggunanya. Jadi, ketika kita mencari sebuah topic tertentu menggunakanmeta search engines, maka dia akan mencari ke seluruh search engines yangberada dalam jangkauannya.

b.   Subject Directories
Subject Directories merupakan sumber informasi digital yang menyediakan informasi dengan metode penyajian menggunakan direktori atau folder dengan topic-topik tertentu yang telah ditetapkan. Dibuat dan dikelola oleh manusia bukan mesin atau program (berbeda dengan search engine yang dikelola oleh program/mesin) dengan mengklasifikasikan subyek ke dalam kategori subyek. Cakupannya tentu lebih sempit dari search engines, akan tetapi secara kualitas isi dan sumber informasi yang ada di dalamnya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Hanya sayang dalam direktori subyek ini, dokumen atau informasi yang ditampilkan jarang sekali dalam bentuk fulltext. 

c.   Newsgroups dan Mailing-List
Newsgroups atau Mailing-List merupakan komunitas atau kelompok diskusi dalam bidang dan minat tertentu di internet. Keduanya sangat potensial juga untuk digunakan dalam penelusuran informasi digital atau elektronik. Paling tidak interaksi diskusi yang dilakukan melalui keduanya dapat memberikan keuntungan apabila kita membutuhkan informasi tertentu yang bisa jadi dimiliki oleh anggota lain dalam kelompok diskusi tersebut.
Alat dan Teknik Penelusuran Informasi

Bentuk sumber informasi yang beraneka ragam menuntut adanya alat atau piranti atau media untuk menemukan kembali informasi tersebut secara tepat dan benar. Sehingga, bentuk informasi yang akan dicari juga akan menentukan alat apa yang paling cocok digunakan sebagai alat penelusuran dan atau temu kembali informasi.

Berdasarkan sifat informasi atau dokumen yang akan diketemukan, maka setidaknya ada beberapa alat telusur atau pencarian sumber informasi seperti yang terlihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Alat Pencarian & Jenis Dokumen/Informasi yang diperoleh (Gash, 2000)
No Sumber/Alat Pencarian Dokumen/Informasi yang diperoleh
1 Katalog Perpustakaan Kebanyakan berupa Buku, tapi terkadang juga  laporan, prosiding, koleksi multimedia atau audio visual, terbitan berkala, tabloid, dll
2 Buku Bibliografi Buku, seringkali berupa laporan, prosiding konferensi, dan publikasi monografi lainnya.
3 Abstrak dan Indeks Jurnal Artikel jurnal, tapi juga laporan, makalah konferensi, terkadang buku, paten, dan juga standar.
4 Current Awareness Services Biasanya berupa Artikel Jurnal, Majalah atau Terbitan Berkala
5 Indeks Khusus Laporan, prosiding konferensi, tesis, disertasi, paten, standar, dan publikasi resmi dari institusi
6 Lembaga dan Orang Apapun
7 Database Elektronik Sumber-sumber elektronik yang berupa data, artikel, makalah, audio-visual, dll
8 Sumber-sumber Online Apapun khususnya sumber-sumber digital seperti artikel, buku, gambar, video, dll.

Keberadaan alat-alat yang digunakan untuk melakukan penelusuran informasi membawa dampak pada bagaimana teknik dalam penelusuran informasi. Alat dan teknik yang digunakan sangat tergantung dari informasi seperti apa yang ingin dihasilkan.
Penelusuran informasi dilakukan dengan memperhatikan beberapa tahapan penelusuran. Gambaran tahapan penelusuran informasi oleh pengguna atau pemustaka terlihat seperti gambar 1 di bawah ini.











Gambar 1. Ilustrasi Tahapan penelusuran Informasi
Teknik penelusuran informasi yang akan ditentukan pada saat analisa dilakukan. Sehingga pada tahap ini merupakan tahap penting bagi pemustaka untuk memahami apa yang dicari dan bagaimana menemukannya. Menurut Yusuf (1988) beberapa teknik penelusuran yang biasanya ada di perpustakaan dengan memanfaatkan berbagai alat/sumber penelusuran dijelaskan dalam pembahasan selanjutnya di bawah ini.
Teknik Penelusuran Informasi melalui Katalog
Teknik penelusuran menggunakan katalog perpustakaan ini biasanya difokuskan untuk menemukan sebuah kode atau angka klasifikasi yang akan menuntun pemakai ke dalam sumber informasi / koleksi perpustakaan yang dibutuhkan. Pemakai akan diarahkan kepada jajaran koleksi perpustakaan. Pemakai atau staf dapat menelusur melalui tiga entri penting yakni berdasarkan judul, pengarang dan / atau subyek. Berikut secara ringkas dapat diberikan ilustrasi diagram alur penelusuran informasi melalui katalog.


Gambar 02 : Diagram Alur Katalog










Gambar 2. Alur Penelusuran melalui Katalog (Yusuf, 1988)
Teknik Penelusuran Informas melalui Bibliografi
Teknik ini mirip dengan katalog, hanya bibliografi cakupannya lebih luas lagi yakni tidak hanya berupa koleksi yang dimiliki perpustakaan akan tetapi juga di luar perpustakaan. Teknik penelusuran ini memanfaatkan daftar bahan pustaka baik yang berupa buku, jurnal maupun sumber lainnya untuk menelusur lebih jauh informasi dan sumber informasi aslinya.
Gambar tiga pada halaman berikut memperlihatkan alur proses penelusuran informasi melalui bibliografi.











Gambar 3. Alur Penelusuran melalui Bibliografi  (Yusuf, 1988)
Secara mudah sebetulnya bibliografi ini akan dapat dilihat dalam sebuah karya tulis atau bahan pustaka, biasanya pada bagian akhir. Namun ada juga yang tercetak dalam sebuah buku bibliografi seperti bibliografi nasional Indonesia.
Teknik Penelusuran Informasi melalui Indeks
Indeks sering diartikan sebagai daftar istilah penting yang terdapat dalam sebuah karya tulis / bahan pustaka yang disusun secara alphabetis. Indeks ini akan memudahkan orang dalam melakukan penelusuran informasi, karena dapat membawa penelusur kepada sumber informasi secara langsung. Indeks ini dapat berupa bagian dari sebuah karya tulis / bahan pustaka dan dapat pula berupa buku yang diterbitkan khusus. Misal, indeks majalah dan atau surat kabar.  Beberapa contoh pemanfaatan indeks: indeks dalam buku-buku ilmiah, buku indeks, indeks (artikel) majalah, Majalah indeks, indeks surat kabar, indeks makalah, dan indeks khusus lainnya.


Teknik Penelusuran Informasi melalui Abstrak

Hal yang membedakan antara indeks dan abstrak adalah indeks hanya sampai pada informasi kepada penunjukkan tempat suatu informasi disimpan, sedangkan abstrak di samping menunjukkan tempat informasi, juga memuat ringkasan informasi dari subyek yang ada. Dan secara definitive, abstrak merupakan pemadatan dari sebuah karya seperti laporan penelitian, artikel majalah/jurnal, prosiding, dan lain-lain. Abstrak yang biasanya dikumpulkan sesuai dengan subyek atau kekhususan informasinya dan disusun secara alphabetis juga.
Teknik Penelusuran Informasi melalui Kamus & Ensiklopedi
Kamus biasanya digunakan untuk mencari informasi singkat tentang ejaan, etimologi, batasan/definisi, pengucapan, padanan kata, pembagian suku kata, dan informasi gramatika. Kamus ini biasanya juga disusun secara alphabetis sehingga memudahkan pemakai dalam menelusuri informasi yang diinginkan.
Ensiklopedi merupakan alat telusur yang sejenis dengan kamus, hanya ensiklopedi biasanya memuat informasi yang lebih lengkap dan biasanya tidak hanya memberikan arti, padanan, maupun ejaan akan tetapi juga dapat membahas lebih dalam lagi seperti sejarah, dan keterangan lainnnya. Biasanya juga ensiklopedi ini disusun secara alphabetis dan berseri / volume.
Teknik Penelusuran Informasi melalui Jaringan Informasi Perpustakaan
Jaringan informasi perpustakaan adalah salah satu alat yang dapat memberikan solusi kepada pemakai untuk mencari informasi secara lebih luas. Jaringan menjadi penting karena akan membentuk sebuah jejaring informasi yang luas, terintegrasi dan lebih lengkap. Sharing informasi menjadi kekuatan dari alat telusur ini, dan saat ini sudah semakin mudah dengan adanya teknologi informasi yang dapat membentuk sebuah jaringan informasi online.
Teknik Penelusuran Informasi melalui Media Elektronik/Online
Beberapa hal terkait dengan penelusuran melalui media elektronik/online ini sudah di bahas pada bagian sebelumnya. Intinya bahwa perkembangan teknologi informasi khususnya komputer telah membawa kemudahan tersendiri dalam proses penelusuran informasi secara elektronik dan atau online. Pemakai / pengguna dan staf perpustakaan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mendapatkan informasi baik berupa informasi tercetak maupun digital dengan cara yang lebih mudah dan cepat. Apalagi dengan adanya internet, pemakai dan staf perpustakaan dimanjakan untuk meraih lebih besar lagi informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber informasi atau lembaga penyedia informasi atau perpustakaan di seluruh dunia.
Teknik Penelusuran informasi melalui media lain
Ada banyak alat bantu penelusuran yang dapat dimanfaatkan oleh pemakai dan staf perpustakaan dalam mendapatkan informasi, meskipun alat-alat bantu tersebut tidak secara spesifik berfungsi sebagai alat penelusuran informasi. Misalnya brosur, pamlet, atlas, globe, peta, direktori, buku pedoman, buku tahunan, dan lain-lain.


Prinsip 6W & 1 H  dalam Strategi Penelusuran Informasi yang Efektif

a. What – Apa
Keberhasilan seseorang dalam menemukan informasi yang akurat sangat ditentukan oleh bagaimana pemahaman pencari atau penelusur terhadap APA sebenarnya yang dicari? Kita harus memahami terlebih dahulu sebenarnya informasi seperti apa yang akan kita cari dan inginkan. Pengetahuan dan pemahaman yang tepat terhadap apa yang akan dicari atau ditelusur akan menentukan alat  atau media apa saja yang dapat digunakan untuk temu kembali informasi atau mendapatkan informasi yang diinginkan. Selain itu, pemahaman dan pengetahuan terhadap apa yang dicari menjadi penting agar penelusur tidak terjebak dalam belantara informasi yang tak berujung. Apa inilah yang akan menjadi titik awal dari sebuah penelusuran. Untuk itulah maka APA harus dapat diterjemahkan secara jelas dan lengkap agar hasil penelusuran akan sesuai dengan tujuan penelusuran informasi.
            Contoh paling mudah adalah ketika kita ingin mencari informasi terkait dengan JAGUAR, maka harus jelas, yang dicari adalah JAGUAR yang merupakan binatang atau yang berarti salah satu jenis atau merek mobil. Apabila yang dimaksudkan adalah JAGUAR yang berarti binatang, sisi apa yang akan dicari, apakah berupa penelitian terkait populasinya, atau nama latinnya, atau siklus hidupnya, habitatnya, atau hanya ingin mencari keterangan atau gambaran mengenai apa itu Jaguar? Kejelasan terkait dengan APA inilah yang akan membawa penelusur atau pencari informasi kepada sumber informasi yang tepat untuk pencarian Jaguar yang dimaksudkan.
            Bagian What atau Apa dari 5W 1H ini merupakan bagian sangat penting bagi sebuah entry point menuju langkah-langkah lain dalam strategi melakukan penelusuran informasi.
b. Where – Dimana
            Bagian penting lain dalam penelusuran adalah terkait dimana kira-kira informasi tersebut dapat diperoleh. Pengetahuan kita terhadap tempat dimana sumber-sumber informasi berada akan sangat menentukan keberhasilan dalam melakukan penelusuran informasi. Selain efektif, pemahaman terhadap tempat atau media dimana sumber informasi berada jelas akan membawa efisiensi dalam penelusuran atau pencarian. Di samping akurat, proses penelusuran yang akan dilakukan juga relatif akan lebih cepat.
            Sebagai contoh, ketika kita mencari dimana akan mendapatkan informasi yang tepat terkait dengan istilah species tertentu dari mahluk hidup di lautan misal ikan, maka bisa jadi akan lebih cepat dan tepat apabila kita mencarinya dalam ensiklopedi yang berhubungan dengan zoologi atau biota laut. daripada misal kita awali dengan mencari di katalog buku atau database jurnal misalnya.
c. Which – Yang Mana
Salah satu hal yang sering ditemui dalam penelusuran informasi adalah terkait dengan pilihan untuk menentukan informasi mana yang sebetulnya tepat, informasi mana yang sebetulnya sesuai dengan yang kita inginkan, dan informasi mana sebetulnya paling relevan dengan topik atau subjek yang sedang dicari. Disinilah pengetahuan seorang penelusur akan diuji, karena ini adalah bagian dari bagaimana kita mengevaluasi informasi yang dihasilkan dari penelusuran.
Di sisi lain, konteks yang mana (Which) dapat juga menjadi entry point untuk menentukan atau mengarahkan kepada informasi yang relevan. Hampir beririsan dengan What atau Apa, maka konsep yang mana juga menuntut kita untuk cermat menentukan kata kunci dalam penelusuran informasi. Misal kita harus menentukan dulu bahwa yang kita cari adalah Hatta yang merupakan proklamator kemerdekaan RI yakni Mohammad Hatta, yang seorang wakil presiden pertama RI, bukan Hatta Rajasa yang menteri di era SBY atau Hatta lain.

Related Posts :

0 komentar:

Posting Komentar