PENGERTIAN EVALUASI PROYEK, ASPEK-ASPEKNYA DAN METODE MEMPEROLEH GAGASAN


PENGERTIAN EVALUASI PROYEK, ASPEK-ASPEKNYA DAN METODE
MEMPEROLEH GAGASAN

A.  KONSEP EVALUASI PROYEK

1. Pengertian Evaluasi Proyek

Evaluasi Proyek, juga dikenal sebagai studi kelayakan proyek (atau studi kelayakan bisnis
pada  proyek  bisnis),  merupakan  pengkajian  suatu  usulan  proyek  (atau  bisnis),  apakah
dapat dilaksanakan (go project) atau tidak (no go project), dengan berdasarkan berbagai
aspek   kajian.   Tujuannya   adalah   untuk   mengetahui   apakah   suatu   proyek   dapat
dilaksanakan  dengan  berhasil, sehingga  dapat  menghindari  keterlanjuran  investasi  modal
yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan.

Dilihat  dari  kapan  evaluasi  dilakukan  pada  proyek,  dapat  dibedakan  4  jenis  evaluasi
proyek:
    Evaluasi terhadap usulan proyek yang akan didirikan (pre-project evaluation);
    Evaluasi terhadap proyek yang sedang dibangun (on-construction project evaluation);
    Evaluasi    terhadap    proyek    yang    telah    dioperasionalisasikan    (on-going    project
evaluation).
    Evaluasi terhadap proyek yang telah berakhir (post-project evalution study).

2. Hal-Hal yang Perlu Diketahui dalam Evaluasi Proyek
Sebelum dilakukan suatu evaluasi proyek, perlu diidentifikasikan hal-hal berikut:
    Ruang  Lingkup  Kegiatan  Proyek,  yakni  pada  bidang-bidang  apa  saja  proyek  akan
beroperasi (mission statement of business).
    Cara  kegiatan  proyek  dilakukan,  yakni  apakah  proyek  akan  ditangani  sendiri,  atau
ditangani juga oleh (beberapa) pihak lain?
    Evaluasi  terhadap  aspek-aspek  yang  menentukan  keberhasilan  seluruh  proyek,  yakni
mengidentifikasi faktor-faktor kunci keberhasilan proyek.
    Sarana  yang  diperlukan  oleh  proyek,  menyangkut  bukan  hanya  kebutuhan  seperti:
material, tenaga kerja, dan sebagainya, tetapi juga fasilitas-fasilitas pendukung seperti
jalan raya, transportasi, dan sebagainya.
    Hasil   kegiatan   proyek   tersebut   serta   biaya-biaya   yang   harus   ditanggung   untuk
memperoleh hasil tersebut.
    Akibat-akibat yang bermanfaat ataupun yang tidak dari adanya proyek tersebut.
    Langkah-langkah  rencana  untuk  mendirikan  proyek,  beserta  jadwal  masing-masing
kegiatan tersebut.

3. Perbedaan Intensitas Evaluasi Proyek
Tidak setiap proyek akan diteliti dengan intensitas yang sama. Beberapa proyek mungkin
harus   diteliti   dengan   sangat   mendalam,   dengan   mencakup   berbagai   aspek   yang

berpengaruh. Beberapa lainnya mungkin cukup diteliti pada beberapa aspek saja. Bahkan
ada yang diteliti secara sederhana dan tidak formal.

Beberapa faktor menentukan intensitas studi evaluasi proyek:
a. Besarnya dana yang ditanamkan: semakin besar dana yang ditanamkan, intensitas studi
akan semakin mendalam.
b. Tingkat  ketidakpastian  proyek:  semakin  sulit  memperkirakan  penghasilan  penjualan,
biaya, aliran kas, dan lain-lain, maka biasanya studi evaluasi proyek akan semakin hati-
hati.
c. Kompleksitas  elemen-elemen  yang  mempengaruhi  proyek:  semakin  kompleks  faktor-
faktor  yang  mempengaruhi  proyek,  semakin  hati-hati  dan  mendalam  studi  evaluasi
proyek tersebut.

4. Lembaga-Lembaga yang Membutuhkan Evaluasi Proyek:
Telah  dijelaskan  pada  bagian  sebelumnya,  bahwa  kegagalan  proyek  dapat  merugikan:
investor, pihak penyedia pembiayaan, pemerintah. Oleh karena itu, mereka lah lembaga-
lembaga yang membutuhkan evaluasi proyek.
   Pemilik  proyek  (investor)  dan  calon  mitra  usaha:  akan  memperhatikan  prospek  usaha,
yakni  tingkat  keuntungan  yang  diharapkan  beserta  tingkat  risiko  investasi.  Biasanya,
semakin tinggi tingkat keuntungan diiringi dengan semakin tinggi risiko proyek.
   Pihak  penyedia  pembiayaan  (bank  kreditur,  perusahaan  leasing,  perusahaan  modal
ventura, underwriter bila melalui bursa efek, lembaga kredit ekspor barang modal, dan
lembaga donor yang mungkin ikut membiayai proyek): memperhatikan segi keamanan
dana yang mereka pinjamkan, karena mereka mengharapkan agar bunga dan angsuran
pokok pinjaman dapat dibayarkan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, mereka akan
memperhatikan pola aliran dana selama jangka waktu pinjaman tersebut.
   Pemerintah:   berkepentingan   atas   manfaat   atau   dampak   dari   proyek   terhadap
perekonomian nasional maupun dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat.

5. Dua Jenis Evaluasi Kelayakan
Untuk  meminimalkan  biaya  dan  efektifitas  kegiatan,  evaluasi  kelayakan  proyek  dilakukan
dalam dua tahap:
   Evaluasi Pendahuluan (Preliminary study atau Pre-evaluation study)
Tujuan  Evaluasi  Pendahuluan  adalah  untuk  mengetahui  faktor-faktor  pengambat  kritis
(critical  factors)  yang  dapat  menghambat  jalannya  operasi  bisnis  proyek  yang  akan
dibangun. Kemungkinan keputusan dari tahap ini adalah pembatalan rencana investasi,
revisi  rencana  investasi,  atau  meneruskan  evaluasi  rencana  investasi  proyek  ke  tahap
berikutnya, yakni studi kelayakan proyek.
   Evaluasi Kelayakan Proyek (Project Feasibility Study)
Fokus  utama  studi  kelayakan  proyek  paling  sedikit  terpusat  pada  empat  aspek:  (1)
aspek pasar dan pemasaran terhadap barang atau jasa yang akan dihasilkan proyek; (2)
aspek produksi, teknis dan teknologis; (3) aspek manajemen dan sumberdaya manusia;
dan (4) aspek keuangan dan ekonomi.

6. Tahapan-Tahapan Evaluasi Proyek
Evaluasi Proyek dapat dibagi menjadi beberapa tahap:


   Tahap  Penemuan  ide,  yakni  penelitian  terhadap  kebutuhan  pasar  dan  jenis  produk
dari proyek. Jika terdapat lebih dari satu ide, maka biasanya pengambil keputusan akan
dipengaruhi oleh tiga faktor: (1) intuisi bisnis dari pengambil keputusan; (2) pengambil
keputusan   memahami   teknis   dari   proyek;   (3)   keyakinan   bahwa   proyek   mampu
menghasilkan laba.
   Tahapan  Penelitian;  yakni  meneliti  beberapa  alternatif  proyek  dengan  berbagai
metode  ilmiah.  Dimulai  dengan   mengumpulkan  data,  mengolah  data  berdasarkan
metode  yang  relevan,  menganalisis  dan  menginterpretasikan  hasil  pengolahan  data
dengan  alat-alat  analisis  yang  sesuai;  menyimpulkan  hasil  sampai  pada  pekerjaan
membuat laporan hasil penelitian.
   Tahap  Evaluasi  (Evaluasi  Pendahuluan  dan  Evaluasi  Kelayakan  Proyek).  Evaluasi
berarti  membandingkan  sesuatu  berdasarkan  satu  atau  lebih  standar  atau  kriteria,
dimana  standar  atau  kriteria  ini  dapat  bersifat  kuantitatif  maupun  kualitatif.  Hal  yang
diperbandingkan  dalam  evaluasi  kelayakan  proyek  biasanya  adalah  manfaat  (benefit)
dengan seluruh biaya yang akan timbul.
   Tahap  Pengurutan  Usulan  yang  Layak.  Apabila  terdapat  lebih  dari  satu  usulan
rencana proyek yang dianggap layak, dan bila manajemen memiliki keterbatasan dalam
menjalankan  proyek-proyek  tersebut,  maka  manajemen  dapat  menentukan  prioritas
usulan   yang   layak   berdasarkan   kriteria-kriteria   pengurutan   (ranking)   yang   telah
ditentukan.
   Tahap  Rencana  Pelaksanaan.  Setelah  ditentukan  rencana  proyek  mana  yang  akan
dijalankan, perlu dibuat rencana kerja pelaksanaan pembangunan  (konstruksi) proyek;
mulai dari penentuan jenis pekerjaan, waktu yang dibutuhkan untuk setiap pekerjaan;
jumlah  dan  kualifikasi  tenaga  pelaksana;  ketersediaan  dana  dan  sumberdaya  lainnya;
kesiapan manajemen, dll.
   Tahapan  Pelaksanaan,  yakni  tahap  merealisasikan  konstruksi  proyek  tersebut.  Jika
proyek  selesai  dikonstruksi,  maka  proyek  dioperasionalisasikan.  Dalam  operasionalisasi
ini,  diperlukan  juga  kajian-kajian  untuk  mengevaluasi  operasionalisasi  proyek.    Hasil
evaluasi  ini  dapat  dijadikan  sebagai  feedback  bagi  perusahaan  untuk  selalu  mengkaji
ualng proyek secara terus-menerus.
B.  DESAIN STUDI KELAYAKAN DAN ASPEK-ASPEK EVALUASI PROYEK
Evaluasi  Proyek  mengkaji  kelayakan  proyek  dari  berbagai  komponen  proyek:  pasar,
internal perusahaan, dan lingkungan.
No
1
2
Komponen
Pasar
Internal Perusahaan
3
Lingkungan
Aspek yang dikaji
Pasar konsumen dan pasar produsen (persaingan)
Pemasaran; Teknik dan Teknologi;
Manajemen; Sumberdaya Manusia;
Keuangan.
Politik, Ekonomi, Sosial; Lingkungan Industrial;
Yuridis (Legal); Lingkungan Hidup.
Suatu aspek mungkin terkait dengan aspek lainnya dalam Evaluasi Proyek. Misalnya:
   Aspek   pemasaran   membutuhkan   data-data   dan   asumsi   dari   aspek   pasar   dan
persaingan, serta aspek-aspek lingkungan;

   Aspek  manajemen  akan  membutuhkan  data-data  dan  asumsi  dari  seluruh  internal
perusahaan dan seluruh aspek lingkungan.
   Aspek sumberdaya manusia membutuhkan data-data dan asumsi dari aspek teknik dan
teknologi,  pasar  dan  pemasaran,  dan  manajemen  untuk  menentukan  jumlah  dan
spesifikasi tenaga kerja dan program pengembangannya.
   Aspek   keuangan   akan   membutuhkan   data-data   dan   asumsi   dari   aspek   pasar,
pemasaran, manajemen, teknik dan teknologi untuk menentukan besar pendapatan dan
biaya yang harus ditanggung badan usaha.

Modifikasi terhadap aspek-aspek studi kelayakan adalah dimungkinkan, disebabkan oleh
batasan-batasan dalam penelitiannya, seperti:
ƒ   Apakah  rencana  bisnis  hanya  terbatas  pada  suatu  produk  baru  atau  pada  rencana
pembentukan SBU atau yang lainnya.
ƒ   Apakah pasar yang dituju berskala internasional, nasional, atau lokal.
ƒ   Apakah   produk   yang   akan   dihasilkan   berupa   barang   atau   jasa   atau   gabungan
keduanya.
ƒ   Apakah   analisis   akan   dilakukan   secara   kualitatif   atau   kuantitatif   atau   gabungan
keduanya.
ƒ   Dsb.

Berikut desain studi kelayakan:

Bab 1. IKHTISAR / EXECUTIVE SUMMARY
Deskripsi Obyek penelitian; Waktu penelitian, Anggota tim peneliti, Ringkasan hasil studi;
dan Rekomendasi hasil studi.

Bab 2. ASPEK PASAR
   Bertujuan untuk mengetahui permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh
proyek.
   Bentuk Pasar: Penjelasan aspek pasar produsen dan konsumen yang dipilih.
   Luas  pasar,  pertumbuhan  permintaan  dan  market  share  dari  proyek  terhadap  seluruh
industri.
   Kondisi  persaingan  antar  produsen  dan  siklus  hidup  produk:  introduksi,  bertumbuh,
dewasa, atau menurun.
   Mengukur dan Meramal Permintaan dan Penawaran: Penjelasan kondisi permintaan dan
penawaran produk sejenis, baik pada saat ini maupun prediksi masa mendatang.

Bab 3. ASPEK PEMASARAN
   Adalah  kegiatan  untuk  menjual  produk  dan  menciptakan  hubungan  jangka  panjang
(yang saling menguntungkan) dengan pelanggan.
   Menentukan ciri-ciri pasar yang akan dipilih (target market).
   Menentukan strategi untuk dapat meraih dan memuaskan pasar.
   Urutan-urutan penulisannya:
A.  Sikap, perilaku, dan kepuasan konsumen: Penjelasan mengenai sikap, perilaku, dan
kepuasan konsumen terhadap produk sejenis saat ini.
B.  Segmentasi-Target-Posisi di Pasar: Segmentasi Pasar, Target Pasar dan stratetegi
positioning untuk menguasai target pasar.

C.  Situasi  persaingan  di  lingkungan  industri:  Penjelasan  situasi  persaingan  antar
perusahaan yang memproduksi produk sejenis dengan produk yang akan diproduksi
perusahaan di pasar yang dipilih.
D.  Manajemen   Pemasaran   (Bauran   pemasaran):   Bagaimana   kebijakan   bauran
pemasaran yang akan dilaksanakan.

Bab 4. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI
   Menentukan   strategi   dan   teknologi   produksi/operasi   yang   akan   dipilih:   kapasitas
produksi, jenis teknologi yang dipakai, pemakaian peralatan dan mesin, lokasi, dan tata-
letak pabrik yang paling menguntungkan.
   Urutan-urutannya:
A.  Pemilihan strategi produksi.
B.  Pemilihan dan perencanaan produk yang akan diproduksi.
C.  Rencana kualitas.
D.  Pemilihan teknologi.
E.  Rencana kapasitas produksi.
F.  Perencanaan letak pabrik.
G.  Perencanaan tata letak (layout).
H.  Perencanaan jumlah produksi.
I.   Manajemen Persediaan.
J.   Pengawasan kualitas produk.

Bab 5. ASPEK MANAJEMEN
   Menentukan  manajemen  baik  dalam  konstruksi  proyek  maupun  saat  operasional  rutin
proyek:  pihak  perencana,  pelaksana  manajerial,  koordinasi  dan  pengawasan,  bentuk
badan usaha, struktur-organisasi.
   Urutan-urutannya:

A.  Pembangunan Proyek:
1.  Perencanaan kegiatan, waktu, SDM, keuangan dan produk.
2.  Pengorganisasian, termasuk struktur, bentuk dan prestasi organisasi.
3.  Pengarahan dan motivasi, termasuk kepemimpinan.
4.  Pengendalian, termasuk penentuan sistem pengendalian yang efektif.
B.  Operasionalisasi Proyek
1.  Perencanaan kegiatan, waktu, SDM, keuangan dan produk.
2.  Pengorganisasian, termasuk struktur, bentuk dan prestasi organisasi.
3.  Pengarahan dan motivasi, termasuk kepemimpinan.
4.  Pengendalian, termasuk penentuan sistem pengendalian yang efektif.

Bab 6. ASPEK SUMBERDAYA MANUSIA
   Menentukan  peran  SDM  baik  dalam  konstruksi  proyek  maupun  saat  operasional  rutin
proyek:   jenis   pekerjaan,   spesifikasi   pekerjaan,   cara   rekrutmen,   renumerasi,   lama
bekerja, cara bekerja, dan pengembangan SDM.
   Menjelaskan  kajian  terhadap  sepuluh  tahapan  Manajemen  SDM  bagi  dua  kegiatan
utama proyek, yakni pembangunan proyek dan operasionalisasinya.
   Urutan-urutannya:
A.  Perencanaan SDM
B.  Analisis pekerjaan

C.  Rekrutmen, seleksi dan orientasi
D.  Produktivitas
E.  Pelatihan dan pengembangan
F.  Prestasi kerja
G.  Kompensasi
H.  Perencanaan karir
I.   Keselamatan dan kesehatan kerja
J.   Pemberhentian

BAB 7. ASPEK EKONOMI, SOSIAL, DAN POLITIK
   Menjelaskan Pengaruh bagiamana kondisi lingkungan perekonomian, sosial dan politik
daerah  dan  negara  diperkirakan  akan  mempengaruhi  rencana  proyek,  begitu  pula
sebaliknya,  bagaimana  pengaruh  proyek  terhadap  perekonomian,  sosial  dan  politik
daerah dan negara.
A.  Aspek  Ekonomi  (Sisi  Rencana  Pembangunan  Nasional/Daerah,  Distribusi  Nilai
Tambah, Investasi per tenaga kerja,
1. Pengaruh Lingkungan Ekonomi terhadap Proyek
2. Pengaruh Proyek terhadap Lingkungan Ekonomi
B.  Aspek Sosial
1.   Pengaruh Lingkungan Sosial terhadap Proyek
2.   Pengaruh Proyek terhadap Lingkungan Sosial
C.  Aspek Lingkungan Alam
2. Pengaruh Lingkungan Alam terhadap Proyek
3. Pengaruh Proyek terhadap Lingkungan Alam (AMDAL)
D.  Aspek Politik
3. Pengaruh Lingkungan Politik terhadap Proyek
4. Pengaruh Proyek terhadap Lingkungan Politik

BAB 8. ASPEK KEUANGAN
   Menentukan pengaturan rencana keuangan: penghitungan perkiraan jumlah dana yang
dibutuhkan,   struktur   pembiayaan   yang   paling   menguntungkan,   analisa   keuangan
kemampulabaan, aliran kas, dsb.
   Urutan-urutannya:
A.  Kebutuhan Dana dan Sumber Dana
B.  Biaya Modal (Cost of Capital)
1.  Biaya Hutang
2.  Biaya Modal Sendiri
C.  Analisis Kepekaan (Sensitivity Analysis)
D.  Kelayakan Finansial Proyek
1.  Proyeksi Kemampulabaan (Projected Income Statement)
2.  Proyeksi Aliran Kas (Projected Cashflow)
3.  Benefit-Cost Ratio
4.  Internal Rate of Return
5.  Analisa kelayakan finansial lainnya

C. IDENTIFIKASI KESEMPATAN BERUSAHA

Identifikasi kesempatan usaha merupakan langkah pertama dalam studi kelayakan. Cara-
cara yang dapat digunakan untuk identifikasi kesempatan usaha dapat dilakukan dengan
modus-modus berikut:

ƒ   Mempelajari impor. Impor menunjukkan bahwa masih terdapat (sebagian) pasar yang
masih  belum  bisa  dipenuhi  oleh  pasar  dalam  negeri.  Bila  impor  ini  mempunyai
kecenderungan   yang   semakin   meningkat,   bisa   diprediksi   bahwa   masih   terdapat
permintaan dari dalam negeri untuk produk/jasa tersebut.

ƒ   Menyelidiki  keberadaan  material  lokal.  Jumlah  material  yang  melimpah,  dengan
harga  yang  murah  dan/atau  mutu  yang  baik  merupakan  kesempatan  yang  dapat
dimanfaatkan.

ƒ   Mempelajari keterampilan tenaga kerja. Beberapa industri, seperti misalnya industri
kerajinan  atau  industri  berbasis  pengetahuan,  menempatkan  tenaga  kerja  sebagai
faktor  yang  sangat  penting.  Tersedianya  tenaga  kerja  yang  berketerampilan  mungkin
dapat   digunakan   untuk   membuat   produk   yang   sejenis,   namun   terdiferensiasi
dibandingkan produk yang telah ada di pasaran.

ƒ   Mempelajari  Industri.  Berbagai  kesempatan  dapat  diperoleh  dalam  industri  yang
sedang  berkembang.  Misalnya,  meningkatnya  jumlah  dan  harga  ekspor  udang  galah
berkualitas  super  menunjukkan  bahwa  masih  terbukanya  kesempatan  usaha  pada
bidang pembudidayaan udang maupun industri hulunya (misalnya: bidang pakan udang,
pembibitan  udang, pembuatan kolam udang, dsb)

ƒ   Eksploitasi    Kemajuan    Iptek.    Perubahan    teknologi    memungkinkan    investor
memanfaatkan   kesempatan   itu   sebelum   pihak   lain   memulainya.   Langkah   masuk
mendahului  pesaing  ke  pasar  yang  baru  mungkin  dapat  memberikan  first  mover
advantage    yang    bila    di-manage,    akan    menjadi    competitive    advantage    yang
menguntungkan.

ƒ   Mempelajari  hubungan  antar  industri.  Pertumbuhan  suatu  industri  hampir  bisa
dipastikan  akan  menciptakan  kesempatan  bagi  industri  lainnya.  Contoh,  pertumbuhan
industri   pembudidayaan   kerang   mutiara   memberikan   kesempatan   bagi   industri
pembibitan dan pakan kerang mutiara (industri hulu) maupun industri kerajinan berbasis
mutiara  dan  perdagangan  mutiara  (industri  hilir).  Identifikasi  kesempatan  ini  dapat
dilakukan  dengan  menganalisa  bagaimana  input  dan  output  industri  tersebut  saling
terkait.

ƒ   Menilai  rencana/program  pembangunan.  Rencana  atau  Program  Pembangunan
Nasional  maupun  Daerah  atau  masterplan  pembangunan  yang  dilakukan  pemerintah,
atau proyek-proyek besar oleh swasta akan menciptakan kebutuhan akan produk/jasa
lain yang belum ada.

ƒ   Melakukan  pengamatan  di  tempat  lain.  Pembangunan  di  daerah,  wilayah,  maupun
negara lain mungkin dapat diterapkan di daerah kita.

Related Posts :

0 komentar:

Posting Komentar